Lewati ke konten
SAGUSATAL Indonesia
Nyanyian Luka dari Pinggir Negeri Bait Puisi dari Tanah Retak yang berisi Senandung Rakyat Tanpa Mi
Sastra

Nyanyian Luka dari Pinggir Negeri Bait Puisi dari Tanah Retak yang berisi Senandung Rakyat Tanpa Mi

oleh Ali Muthohar, Di negeri yang kaya, masih banyak suara yang tak pernah sampai ke ruang-ruang pengambil keputusan. Ada tangis guru yang tertahan di ruang kelas, jerit petani yang kehilangan tanah, keluh buruh yang tenggelam dalam angka-angka statistik,...

Rp90.000

Rp100.000

Hemat 10%
Status
Stok tersedia
Kode
#1788747657
Tanya via WhatsApp

Deskripsi Buku

NYANYIAN LUKA DARI PINGGIR NEGERI
“Bait Puisi dari Tanah Retak
yang berisi Senandung Rakyat Tanpa Mikrofon”
penulis: Ali Muthohar 

Di negeri yang kaya, masih banyak suara yang tak pernah sampai ke ruang-ruang pengambil keputusan. Ada tangis guru yang tertahan di ruang kelas, jerit petani yang kehilangan tanah, keluh buruh yang tenggelam dalam angka-angka statistik, hingga kegelisahan rakyat kecil yang hanya menjadi gema di sudut-sudut jalan. Ketika kritik sering dianggap ancaman dan kejujuran kalah oleh kepentingan, puisi hadir sebagai bahasa yang tak dapat dibungkam.

Nyanyian Luka dari Pinggir Negeri menghimpun 81 puisi yang lahir dari kepekaan terhadap realitas sosial, politik, hukum, pendidikan, dan kemanusiaan di Indonesia. Setiap bait bukan sekadar ungkapan kemarahan, melainkan ajakan untuk merenung; bukan sekadar kritik, melainkan harapan agar kekuasaan kembali berpihak kepada keadilan, integritas, dan nurani. Dengan metafora yang tajam, bahasa yang puitis, dan refleksi yang mendalam, buku ini mengajak pembaca menyusuri wajah negeri dari sudut yang sering luput dari sorotan.

Buku ini bukan ditulis untuk menumbuhkan kebencian kepada siapa pun. Sebaliknya, ia lahir dari kecintaan kepada Indonesia—sebuah keyakinan bahwa bangsa yang besar hanya dapat berdiri tegak apabila berani mendengar suara rakyatnya sendiri. Setiap puisi adalah nyanyian bagi mereka yang bekerja tanpa tepuk tangan, berjuang tanpa sorotan kamera, dan mencintai negeri tanpa syarat.

Jika puisi adalah suara hati sebuah zaman, maka buku ini adalah catatan tentang zaman kita. Bacalah setiap halaman dengan hati yang terbuka. Mungkin Anda akan menemukan kegelisahan yang sama, harapan yang serupa, dan keberanian untuk terus mencintai negeri ini dengan cara yang paling bermartabat: menjaga nurani agar tetap hidup.


 

Buku terkait

Antologi Puisi Bukan Jiwa Yang Angkuh -16%

Antologi Puisi Bukan Jiwa Yang Angkuh

Satria Pausina, S.Pd., Miftah Farid, Akbar Tanjung, Andi Rahmat Hidayat, Arman, Awal Ramadhani, Fasta Fauzia, Fitriani, Gina Regina, Irfan Rifaldi, Julia Sriyanti, Muh. Rifki, Muhammad Rizky, Nadin, Nur Halifa, Nur aisyah, Nurhayati, Nurul Azizah, Mu...

Rp50.000

Rp42.000

Nyala Asa di Senandung Abu-Abu -8%

Nyala Asa di Senandung Abu-Abu

Angela Dian Nauli Manalu, Terdapat berbagai suasana yang digambar dalam kumpulan puisi ini, semuanya merupakan pengalaman yang mewarnai perjalanan kisah saat masih mengenakan seragam abu – abu. Ada 30 puisi yang melukiskan berbagai cerita tentang per...

Rp60.000

Rp55.000

Prosa Kalbu -8%

Prosa Kalbu

Putu Nanda, Ida Yulia, Aisyah Nadhir Tan, Alifia Keisha Zahra, Aliya Nabila,Alya Chairunissa Putri, Dava Gilang Ramadhan, Davyna Dwi Amanda, Denisha Syifa Faudah, Dini Oktaviani, Elza Aulia Putri, Kalyne Zaafira, Karina Az Zahra Thirty, Kezia Wiliand...

Rp60.000

Rp55.000

Goresan Tangan Rakyat -15%

Goresan Tangan Rakyat

M. Razi Pardana, Ida Yulia, Adra Ziva Ivana, Akhmad Saddam A, Alisha Putri, Ammara Khalisa A, Annastasya N, Arinta Khairun Nisa, Aulia Andini, Aulia Nafisatun R, Danish Alfarisi, Fathansya Nur A, Firyal Azzah L, Fransa Afifah A, Intan Nurul’atha, Jin...

Rp65.000

Rp55.000